Friday, April 26, 2013

Mula-Mula Bergereja

Gereja dimulai 40 hari sesudah kebangkitan Yesus (sekitar tahun 30 Masehi) Yesus sudah berjanji bahwa Dia akan mendirikan gerejaNya (Matius 16:18), dan dengan datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-4), Gereja (“kumpulan yang dipanggil keluar”) secara resmi dimulai. Tiga ribu orang yang menerima khotbah Petrus pada hari itu dan memilih untuk mengikuti Kristus.

Petobat-petobat pertama kepada kekristenan adalah orang-orang Yahudi atau peganut-penganut Yudaisme, dan gereja berpusat di Yerusalem. Karena itu kekristenan pada mulanya dipandang sebagai sekte Yahudi, sama seperti orang-orang Farisi, Saduki, atau Esseni. Namun demikian, apa yang dikhotbahkan para rasul berbeda secara radikal dari apa yang diajarkan oleh kelompok-kelompok Yahudi lainnya. Yesus adalah Mesias orang Yahudi (Raja yang Diurapi) yang datang untuk menggenapi Hukum Taurat (Matius 5:17) dan mendirikan Perjanjian Baru yang berdasarkan pada kematianNya (Markus 14:24). Berita ini, dan tuduhan bahwa mereka telah membunuh Mesias mereka sendiri, membuat banyak pemuka Yahudi menjadi marah, dan beberapa orang, seperti Saul dari Tarsus, mengambil tindakan untuk memusnahkan “Jalan” itu (Kisah 9:1-2).

Periode gereja mula-mula dimulai sejak dimulainya pelayanan rasul Petrus, Paulus dan lain-lainnya dalam memberitakan kisah Yesus hingga bertobatnya Kaisar Konstantinus I, kurang lebih tahun 33 hingga 325. Pada periode ini gereja dan orang-orang Kristen mengalami penganiayaan, terutama penganiayaan fisik, namun bapak-bapak gereja mulai menulis tulisan-tulisan Kristen yang pertama dan ajaran-ajaran yang menyeleweng yang bermunculan diatasi.

Tidak lama setelah Pentakosta, pintu gereja terbuka kepada orang-orang bukan Yahudi. Rasul Filipus berkhotbah kepada orang-orang Samaria (Kisah 8:5), dan banyak dari mereka yang percaya kepada Kristus. Rasul Petrus berkhotbah kepada rumah tangga Kornelius yang bukanlah orang Yahudi (Kisah 10) dan mereka juga menerima Roh Kudus. Rasul Paulus (mantan penganiaya gereja) memberitakan Injil di seluruh dunia Greko-Romawi, sampai ke Roma sendiri (Kisah 28:16) dan bahkan mungkin sampai ke Spanyol.

Pada tahun 70, tahun di mana Yerusalem dihancurkan, kitab-kitab Perjanjian Baru telah lengkap dan beredar di antara gereja-gereja. Untuk 240 tahun berikutnya, orang-orang Kristen dianiaya oleh Roma, kadang secara acak, kadang atas perintah pemerintah.

Pada abad kedua dan ketiga, kepemimpinan gereja mejadi makin hirakhis seiring dengan peningkatan jumlah. Beberapa ajaran sesat diungkapkan dan ditolak pada zaman ini, dan kanon Perjanjian Baru disepakati. Penganiayaan terus meningkat.a

Tuesday, April 23, 2013

Pekabaran Injil di Indonesia dari Tahun 1500 sampai Tahun 1800

Pekerjaan beberapa pendeta.

Untuk mendapat kesan tentang usaha pendeta-pendeta di pelbagai lapangan pekerjaan, marilah kita meninjau sepintas lalu beberapa di antara mereka, yang menjadi terkemuka karena jasanya.

Sebastian Danckaerts bekerja di Ambon (1618-1622) dan Jakarta (1624-1634). Di Ambon ia berkhotbah dalam bahasa Belanda dan Melayu. Terutama ia mementingkan persekolahan; atas usulnya, tiap-tiap hari pemerintah memberi beras kepada anak-anak sekolah, sehingga banyak anak tertarik. Pun dibukanya sebuah sekolah guru untuk melatih penolong-penolong yang cakap bagi pekerjaan di jemaat dan di sekolah. Dengan karangannya tentang keadaan agama Kristen di Ambon, Danckaerts menghidupkan perhatian Gereja Belanda terhadap Pekabaran Injil. Tambahan pula, ia berusaha mendapat tatagereja yang teratur bagi jemaat-jemaat di Indonesia, tatkala ia berlibur di Belanda.

Jemaat-jemaat di Jawa sampai saat pimpinan diambilalih oleh Zending (± tahun-tahun 1830-an sampai 1860-an)

Keadaan Umum

Sejak abad ke-18, sebagian besar pulau Jawa dikuasai oleh orang-orang Belanda secara langsung. Setelah VOC bubar (1799), sampai tahun-tahun 1820-an, keadaan politis adalah tidak tetap : pemerintah-Belanda yang mengganti VOC, diusir oleh orang-orang Inggeris (1811), tetapi lima tahun kemudian orang-orang Belanda kembali lagi (1816). Penguasa-penguasa yang silih-berganti ini membawa serta cita-cita yang luhur, yang di Eropa telah dicetuskan oleh Pencerahan (§ 17). Beberapa kali terjadi reorganisasi di bidang ekonomi (sistim perpajakan, soal tanah) dan politik. Dan Gubernur-Jenderal yang pertama sesudah masa pemerintahan Inggeris mempunyai rencana-rencana yang sangat baik untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Jawa. Tetapi negeri Belanda menghadapi peperangan di Jawa (Perang Diponegoro, 1825-1830) dan di Eropa (1830-1839). Akibatnya, perbendaharaan negara Belanda kosong, dan tenaga orang-orang Jawa dikerahkan untuk mengisinya kembali melalui sistem Tanam Paksa. Sistim itulah yang menentukan kebijaksanaan pemerintah Belanda di Jawa mulai dari tahun-tahun 1830-an sampai 1860-an. Negeri Belanda membutuhkan uang, dan jangan hendaknya membutuhkan uang, dan jangan hendaknya ada yang mengganggu keamanan dan ketertiban, sehingga kelancaran arus itu terputus. Oleh karena itu pemerintah enggan mengizinkan lembaga-lembaga zending bekerja di Jawa selama masa itu, dan sesudah itu pun pekerjaan mereka sering mengalami rintangan dari pihak para pejabat pemerintah.

Keadaan di bidang keagamaan

Dalam abad ke-16, pedalaman Jawa sudah diislamkan (bnd ps 2). Di ujung Timur pulau itu, agama Hindu masih bertahan sampai sekitar tahun 1770. Tetapi Kompeni mengusir orang-orang Bali dari sana, sehingga daerah itu pun dimenangkan bagi Islam. Namun demikian, di tengah-tengah masyarakat Jawa Islam itu corak berpikir dari zaman sebelum kedatangan Islam, sempat hidup terus. Di satu pihak, seluruh hidup orang-orang Jawa, khususnya di desa-desa, tetap diatur oleh adat. Di lain pihak, banyak orang Jawa terpengaruh oleh kebatinan. Orang-orang ini mempersoalkan nilai upacara keagamaan, kunjungan ke tempat-tempat ibadah, kitab-kitab suci dan sebagainya. Bagi mereka, hal-hal ini bersifat "lahiriah" dan dengan demikian lebih rendah martabatnya daripada hal-hal "batiniah", yaitu ibadah dalam hati. Mereka memandang agama sebagai "ngelmu", "ilmu", yaitu pengetahuan rahasia yang memberi kekuatan batin kepada yang memilikinya. Rupanya justru dalam abad ke-19 dunia rohani orang Jawa mengalami pergolakan yang besar dan banyak orang yang berjalan keliling Jawa untuk mencari "ngelmu" baru. Perlu dicatat bahwa pengaruh kebatinan ini lebih besar di Jawa Timur dan Tengah daripada di Jawa Barat.

Alkitab Dalam Bahasa Daerah

Penting sekali bahwa Firman Allah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, yakni alat perhubungan antar daerah yang kemudian berkembang menjadi bahasa nasional. Tetapi penting juga bahwa Firman Allah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa daerah, yang sungguh dapat mengetuk pintu hati orang.

Konon, jumlah bahasa di Indonesia banyak sekali. Menurut laporan Lembaga Alkitab Indonesia tahun 1977, tidak kurang dari 500 bahasa yang sekarang ada di tanah air kita. Mustahil dalam buku ini kita dapat menyoroti semua bahasa itu yang pernah digarap oleh penterjemah Kitab Suci. Mari kita meneropong hanya satu contoh saja, yaitu: bahasa Jawa, yang dipakai oleh lebih banyak orang daripada bahasa-bahasa daerah lainnya. Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa daerah itu akan kita selidiki, bukan hanya karena penting, melainkan juga karena yang paling awal dalam sejarah terjemahan.Yang pertama-tama berjasa besar demi Firman Allah dalam bahasa Jawa itu bukan orang Jawa, juga bukan orang Belanda: Dia itu orang Jerman.

Alkitab pada Abad Pertengahan

Segenap umat Kristen berhutang budi kepada para kaum religius, imam, biarawan dan biarawati yang menyalin, memperbanyak, memelihara dan menyebarluaskan Alkitab selama berabad-abad. Para biarawan adalah kaum yang paling terpelajar pada jamannya dan salah satu kegiatan utama mereka adalah menyalin isi Alkitab sedangkan biara-biara menjadi pusat penyimpanan naskah-naskah Alkitab ini. Umumnya masing-masing biara-biara di abad pertengahan memiliki perpustakaan tersendiri. Tidak kurang dari para raja dan kaum bangsawan dan orang-orang terkenal meminjam dari biara-biara ini. Para raja dan kaum bangsawan itu sendiri, bersama para Paus, uskup dan kepala-kepala biara, sering menghadiahkan Kitab Suci yang diberi hiasan yang indah kepada biara-biara dan gereja-gereja di seluruh Eropa.

Untuk menyalin satu Alkitab lengkap, diperlukan sekurangnya 10 bulan tenaga kerja dan sejumlah besar perkamen yang mahal harganya untuk memuat lebih dari 35000 ayat-ayat dalam Alkitab. Hal ini menjelaskan mengapa banyak orang biasa tidak mampu memiliki setidaknya satu set Alkitab lengkap di rumah-rumah mereka. Mereka biasanya memiliki salinan dari sejumlah pasal dalam Alkitab yang populer. Jadi kebiasaan memiliki bagian-bagian dari Alkitab yang terpisah adalah kebiasaan yang sepenuhnya Katolik dan yang hingga kini masih dilakukan.

Alkitab pada abad pertengahan umumnya ditulis dalam bahasa Latin. Hal ini dilakukan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menyulitkan umat yang ingin membacanya. Kebanyakan orang pada masa itu tidak mampu membaca, sedangkan mereka yang mampu membaca, juga dapat mengerti bahasa Latin. Latin adalah bahasa universal pada waktu itu. Mereka yang mampu membaca lebih menyukai membaca Vulgate, versi Latin dari Alkitab. Oleh karena kenyataan tersebut, tidak ada alasan kuat untuk menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa setempat secara besar-besaran. Namun meski demikian harap diingat bahwa sepanjang sejarah Gereja Katolik tetap menyediakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa setempat.

Martin Luther dan Alkitab Protestan


Pada tahun 1529, Martin Luther mengajukan kanon Palestina yang menetapkan 39 kitab dalam bahasa Ibrani sebagai kanon Perjanjian Lama. Luther mencari pembenaran dari keputusan konsili Jamnia (yang adalah konsili imam Yahudi, jadi bukan sebuah konsili Gereja Kristen!) bahwa tujuh kitab yang dikeluarkan dari Perjanjian Lama tidak memiliki kitab-kitab aslinya dalam bahasa Ibrani. Luther melakukan hal tersebut sebenarnya karena sejumlah ayat-ayat yang terdapat pada kitab-kitab tersebut justru mengokohkan doktrin-doktrin Gereja Katolik dan bertentangan dengan doktrin-doktrin baru yang dikembangkan oleh Martin Luther sendiri.

Oleh karena alasan yang serupa, Martin Luther juga nyaris membuang beberapa kitab-kitab lainnya: surat Yakobus, surat Ibrani, kitab Ester dan kitab Wahyu. Hanya karena bujukan kuat oleh para pendukung kaum reformasi Protestan yang lebih konservatif maka kitab-kitab diatas tetap dipertahankan dalam Alkitab kaum Protestan. Namun demikian, tidak kurang Martin Luther menghujat bahwa surat Yakobus tidak pantas dimasukkan dalam Alkitab.

Untuk mendukung salah satu doktrinnya yang terkenal yaitu Sola Fide (bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman saja), dalam Alkitab terjemahan bahasa Jerman, Martin Luther menambahkan kata 'saja' pada surat Roma 3:28. Sehingga ayat tersebut berbunyi: "Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman saja, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat". Tidak heran kalau Martin Luther menghujat surat Rasul Yakobus dan berusaha untuk membuangnya dari Perjanjian Baru, karena justru dalam surat Yakobus ada banyak ayat yang menjatuhkan doktrin Sola Fide yang diciptakan oleh Martin Luther tersebut. Antara lain, dalam Yakobus 2:14-15 tertulis: "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" dan Yakobus 2:17 "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati" dan Yakobus 2:24 "Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman."

Pertanyaannya sekarang adalah: Kitab Perjanjian Lama manakah yang lebih baik anda baca? Kitab Perjanjian Lama yang digunakan oleh Yesus, para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru dan Gereja purba? Atau Kitab Perjanjian Lama yang ditetapkan oleh imam-imam Yahudi yang menolak Yesus Kristus dan menindas umat Kristen purba ?

Sejarah Terbentuknya Kitab-kitab Perjanjian Lama

Alkitab Gereja Katolik terdiri dari 73 kitab, yaitu Perjanjian Lama terdiri dari 46 kitab sedangkan Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab.
Bagaimanakah sejarahnya sehingga Alkitab terdiri dari 73 kitab, tidak lebih dan tidak kurang ?

Pertama, kita akan mengupas kitab-kitab Perjanjian Lama yang dibagi dalam tiga bagian utama :
  1.     Hukum-hukum Taurat,
  2.     Kitab nabi-nabi, dan
  3.     Naskah-naskah.
Lima buku pertama : Kitab Kejadian, Kitab Keluaran, Kitab Imamat dan Kitab Bilangan dan Kitab Ulangan adalah intisari dan cikal-bakal seluruh kitab-kitab Perjanjian Lama. Pada suatu ketika dalam sejarah, ini adalah Kitab Suci yang dikenal oleh orang-orang Yahudi dan disebut Kitab Taurat atau Pentateuch.

Selama lebih dari 2000 tahun, nabi Musa dianggap sebagai penulis dari Kitab Taurat, oleh karena itu kitab ini sering disebut Kitab Nabi Musa dan sepanjang Alkitab ada referensi kepada "Hukum Nabi Musa". Tidak ada seorangpun yang dapat memastikan siapa yang menulis Kitab Taurat, tetapi tidak disangkal bahwa nabi Musa memegang peran yang unik dan penting dalam berbagai peristiwa-peristiwa yang terekam dalam kitab-kitab ini. Sebagai orang Katolik, kita percaya bahwa Alkitab adalah hasil inspirasi Ilahi dan karenanya identitas para manusia pengarangnya tidaklah penting.

Pekabaran Injil dan Gereja-gereja di Daerah Sulawesi Utara (di Luar Minahasa)

Keadaan Umum

Sama seperti Minahasa, begitu juga bagian-bagian Sulawesi Utara lainnya sudah didatangi orang Eropa, termasuk pekabar-pekabar Injil, sejak abad ke-16 (§ 11). Meskipun demikian, daerah-daerah lain itu kurang mendapat minat penguasa Eropa ketimbang daerah Minahasa. Seluruh wilayah Sulut sudah termasuk lingkungan pengaruh Belanda sejak zaman VOC, namun kekuasaan Belanda barulah dimantapkan pada tahun 1882 di Sangir-Talaud, 1889 di Gorontalo, 1900 di Bolaang Mongondow. Dalam abad ke-19, di wilayah ini sebagian besar penduduk sudah tidak lagi menganut agama nenek moyang: agama Isalam dan agama Kristen telah masuk pada abad ke-16, dan dalam abad ke-19 pengaruh kedua agama tersebut semakin meluas.

Sangir-Talaud

Gugusan pulau Sangir-Talaud terbentang sepanjang 600 km. di pinggir lautan Pasifik. Di antara pulau-pulau itu, yang jumlahya 70, terdapat beberapa yang agak besar, a.l. pulau Siau dan pulau Sangir Besar (Sangir Besar kira-kira seluas wilayah kota Jakarta Raya). Jumlah penduduk pada abad ke-19 berkisar sekitar 70.000 jiwa. Mereka ini memakai dua bahasa, yaitu bahasa Sangir dan bahasa Talaud, yang berbeda-beda logatnya menurut daerah. Nafkahnya diperolehnya dari perikanan dan dari perkebunan kelapa dan pala. Di Sangir Besar, sebagian penduduk sejak abad ke-16 sedah masuk Islam, sedangkan sebagian lain pada zaman itu telah masuk Kristen. Tetapi sampai akhir abad ke-19 mayoritas orang Sangir dan Talaud masih beragama suku. Selama masa penjajahan Belanda terdapat dua faktor yang, di samping perhubungan yang sulit, secara khusus mempersulit karya pI, yaitu kehadiran sejumlah besar pedagang yang a.l. memasukkan minuman keras, dan sikap bermusuhan yang diperlihatkan oleh sebagian pejabat pemerintah (Controleur) Belanda, yang ditempatkan di daerah itu sejak tahun 1882.

Keadaan jemaat sekitar tahun 1850

Sekitar tahun 1850, di kepulauan Talaud sudah tidak ada lagi orang Kristen. Di pulau-pulau Sangir tetap ada jemaat-jemaat Kristen, lengkap dengan gedung gereja dan sekolahnya. Jemaat-jemaat ini tetap memelihara kerangka kehidupan Kristen. Di dalam gedung gereja yang terawat dengan baik terdapat bangku-bangku khusus untuk para pemuka kampung. Setiap hari Ahad jemaat berkumpul mengikuti kebaktian yang polanya masih seperti pada zaman Kompeni (§ 10). Pengumpulan dana pun tidak terlupakan. Pada hari Kamis malam diadakan kelompok doa. Tidak diadakan ketekisasi, tetapi di sekolah anak-anak menghafal beberapa Mazmur serta doa berikut bahan-bahan dari katekismus. Penduduk itu pun memiliki kesadaran Kristen yang tinggi: apabila seorang pendeta datang berkunjung (yang jarang terjadi), maka mereka berdesak-desakan meminta agar dibaptis, sehingga pada kesempatan itu ada sampai 5.000 lebih orang dibaptis. Namun agama Kristen tidak berhasil meresap dalam kehidupan sehari-hari; agama itu merupakan "agama upacara". Soalnya, para penghantar jemaat tidak berpendidikan khusus; kebaktian dijalankan dalam bahasa asing, yakni bahasa Melayu; tidak ada majelis gereja; tidak ada pelayanan Perjamuan Kudus, karena tidak ada anggota sidi; buku Kitab Suci (yang tentu dalam bahasa Melayu, yang kuno lagi) sudah amat langka, pengajaran agama yang sedikit diperoleh di sekolah pun hanya dinikmati oleh segelintir anak-anak. Pendeknya, jenis kekristenan seperti yang terdapat di jemaat-jemaat VOC yang terlantar itu sangat bertentangan dengan cita-cita yang dikandung oleh para pekabar Injil yang dalam tahun 1850-an datang ke Sangir-Talaud (bnd. § 26).

Para zendeling pertama

Para pendeta dan pekabar Injil yang dari Minahasa melakukan kunjungan ke Sangir-Talaud mendesak NZG (§ 29) agar menangani karya pI di pulau-pulau itu. Tetapi NZG, selain memiliki lapangan kerja di Maluku, Timor, dan Minahasa, baru saja mulai mengutus tenaga ke Jawa Timur pula (§ 24), sehingga merasa tidak mampu. Maka Panitia Zendeling-tukang (§ 19, 30) merasa terpanggil untuk mengisi lowongan itu. Dalam tahun 1857, sesudah dua tahun dalam perjalanan, empat zendeling-tukang mendarat di pulau-pulau Sangir, dua tahun kemudian empat orang lagi tiba di Talaud. Sesuai dengan asas yang dianut oleh Panitia tersebut, mereka tidak mendapat gaji yang tetap. Namun, pemerintah mengakui jemaat-jemaat di Sangir sebagai jemaat-jemaat VOC, sehingga bersedia menyediakan anggaran untuk para pekerja baru itu. Mereka ini kebanyakan orang Jerman dari kelompok Gossner (§ 30, 36). Yang menjadi tokoh yang terkenal di antara mereka ialah E. T. Steller, yang selama masa 1857-1897 bekerja di Manganitu, Sangir Besar.

Pendekatan para zendeling


Steller bersama rekan-rekannya segera menjalankan upaya untuk membenahi jemaat. Mereka ingin supaya semua anggota memiliki kesalehan hati dan kesucian hidup. Secara negatif, mereka memberantas kepercayaan takhyul, kebiasaan minum minuman keras dan perkawinan poligami yang banyak terdapat di kalangan orang Kristen. Secara positif, mereka secepat mungkin mulai menggunakan bahasa daerah sebagai ganti bahasa Melayu. Beberapa bagian Alkitab mereka terjemahkan ke dalam bahasa daerah (1883, PB dalam logat Siau; 1942, PB dalam bahasa Sangir), begitu pula Katekismus Heidelberg (1871), Perjalanan seorang Musafir karangan J. Bunyan, dan lain-lain. Jumlah kebaktian diperbanyak: pada hari Minggu petang bahan yang telah dikhotbahkan dalam kebaktian pagi dibahas lagi, disusul oleh katekisasi dan Sekolah Minggu. Tiap-tiap hari diadakan kebaktian pagi dan malam, yang juga digunakan untuk maksud pengajaran agama. Tiap bulan ada kumpulan pekabaran Injil di Manganitu. Di sana diberikan keterangan mengenai karya pI di seluruh dunia, lalu diadakan doa syafaat serta pengumpulan dana untuk karya itu. Di samping itu, Steller banyak berkunjung ke rumah anggota jemaat, khususnya yang sakit atau yang jatuh ke dalam dosa, dan rumah Zendeling itu pun terbuka bagi orang Sangir. Bertentangan dengan para pendeta yang telah datang berkunjung sebelum tahun 1857, Steller dan mayoritas teman-temannya enggan membaptis orang dewasa kalau tidak ada persiapan yang matang.Lamanya persipan itu harus minimal satu tahun, tetapi kalau zendeling meragukan mutu kepercayaan sang calon, baptisan itu pun ditunda sampai tiga empat tahun. Lebih baik jemaat-jemaat yang kecil dan setia daripada yang besar namun suam-suam kuku, demikian pandangan mereka.

Perkebunan Gunung

Tunjangan yang diperolehnya dari pemerintah tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga zendeling sendiri, apalagi keluarga besar yang terdiri dari anak-anak asuh dan lain-lain. Oleh Panitia Zendeling tukang mereka telah disuruh mencari rejeki melalui kecakapan masing-masing selaku tukang. Tetapi bagaimana seorang pembuat kereta dapat mencari nafkah di negeri yang tidak ada jalan-jalan, atau seorang tukang sepatu di tempat tidak memakai sepatu? Khususnya dalam tahun-tahun pertama para pekabaar Injil itu sungguh melarat, apalagi di Talaud. Di situ para zendeling terpaksa hidup sesuai dengan pola penduduk setempat, termasuk jenis makanan, serta mengawini putri daerah. Maka Steller mencari jalan keluar dengan membuka hutan di pegunungan di atas Manganitu. Dengan demikian lahirlah perkebunan "Gunung", yang bisa berhasil karena zendeling sendiri dengan tidak mengenal lelah membabat pohon-pohon dan mengerjakan kebun itu. Tetapi yang dihasilkan "Gunung" itu bukan hanya pendapatan tambahan bagi kas pribadi Steller ataupun bagi kas zending. Perkebunan itu dijadikan sebagai dasar seluruh karya pI, karena merupakan persemaian tenaga pemimpin dalam gereja dan juga dalam masyarakat luas. Sesuai dengan cita-cita pietis, Steller ingin merombak seluruh pola kehidupan masyarakat Sangir. Ia ingin membina orang yang, di samping menjadi pribadi yang saleh, juga biasa dengan kehidupan yang teratur, yang menghargai pekerjaan keras dan, meskipun termasuk golongan bangsawan, tidaklah menghina pekerjaan tangan. Anak-anak yang menawarkan diri untuk menjadi anak asuh di "Gunung" mendapat pendidikan sekolah pada malam hari; pada siang hari mereka bekerja di kebun, dan pagi serta malam mereka diikutsertakan dalam ibadah doa, sehingga di situ dijalankan kehidupan yang subur dalam kerangka liturgis yang kokoh. Jumlahnya bisa sampai 90 orang sekaligus, dan mereka tinggal di sana lima sampai sepuluh tahun atau lebih. Di antara para tamatan "Gunung", banyak yang menjadi guru/penghantar jemaat ataupun kepala kampung, atau merantau ke daerah lain menjadi mantri kesehatan dan lain-lain. Salah satu hasil sampingan usahanya ialah bahwa pada masa kelaparan Steller dapat menyediakan bahan makanan untuk orang banyak.

Tanggapan orang Sangir

Mula-mula penduduk Kristen bersikap agak negatif terhadap upaya para zendeling. ´Kan mereka sudah dibaptis, maka kenapa pula status mereka selaku orang Kristen perlu diragukan? Kalau mereka sudah mengikuti katekisasi, kenapa mereka diharuskan belajar lagi? Mereka enggan menerima disiplin gerejawi terhadap kebisaan mereka, seperti poligami dan sebagainya. Namun, dalam waktu relatif singkat kehidupan jemaat berhasil dirombak Jumlah anggota sidi, yang pada waktu sebelum kedatangan para zendeling masih praktis nol, meningkat menjadi ribuan, meskipun diadakan penyaringan yang ketat. Poligami hilang, pengaruh agama suku mundur. Jemaat-jemaat memiliki penatua-penatua dan diaken-diaken. Jemaat belajar membiayai sendiri pembangunan dan pemeliharaan gedung gereja serta sekolah; mereka memberi sumbangan untuk gaji penghantar jemaat dan untuk biaya pekabaran Injil di daerah lain ataupun untuk menolong korban bencana alam. Jemaat Manganitu sejak tahun 1865 membiayai tenaga penginjil orang Sangir di kepulauan Talaud. Di kampung-kampung Kristen, masyarakat kampung merupakan semacam teokrasi, sebab gereja dan sekolah, perayaan hari Minggu, dan kehidupan sehari-hari semua ditandai oleh agama. Jumlah anggota gereja pun meningkaat dengan cepat, dari ± 20.000 (35% seluruh penduduk) pada tahun 1855 menjadi 121.000 (75%) pada tahun 1936, belum terhitung puluhan ribu orang Sangir dalam perantauan. Pada tahun 1891 dibuka sekolah pendidikan guru di Siau(1908 pindah ke Kaluwatu, 1933 ditutup).

Perombakan organisasi

Sejak tahun 1858, Panitia Zendeling-tukang tidak begitu aktif lagi, dan dengan kematian Heldring pada tahun 1876 kegiatan Panitia itu sama sekali berhenti. Dengan demikian, para utusannya tidak lagi memiliki pangkalan di tanah air, sedangkan tidak juga ada badan yang bisa mengutus tenaga tambahan. Maka pada tahun 1887 di Negeri Belanda didirikan Panitia Sangir-Talaud (§ 30). Atas desakan Panitia itu, para pekerja di Sangir-Talaud yang selama itu bekerja sendiri-sendiri dengan mengikuti selera masing-masing dalam hal metode, digabungkan menjadi Konferensi para Zendeling, yang berkumpul setahun sekali. Di samping itu, dibentuk pula Konferensi para pengerja pribumi, yang berkumpul dua tahun sekali bersamaan waktu dan tempat dengan Konferensi para Zendeling.

Menuju pembentukan GMIST


Meskipun tingkat kehidupan jemaat sudah berhasil dinaikkan, para zendeling menganggap jemaat belum "matang", sehingga belum bisa berdiri sendiri. Masih terlampau banyak orang Kristen secara nama saja, masih terlampau banyak "sisa-sisa kekafiran" yang bertahan dalam jiwa anggota jemaat, masih kurang tenaga Indonesia yang mampu menggantikan para zendeling bangsa Eropa. Akan tetapi, dalam tahun-tahun 1920-an pola berpikir yang berlaku di kalangan para zendeling itu mulai berubah (§ 29). Tidak mungkin jemaat belajar untuk berdiri sendiri, baik secara rohani maupun secara material, selama jemaat itu berada di bawah perwalian zending terus-menerus. Maka pada tahun 1921 sudah ditahbiskan enam belas pendeta pribumi (inlands leaars), yang berhak melayankan sakramen-sakramen sehingga berwenang sama dengan para utusan Injil dari Eropa. Salah seorang di antara mereka ialah Yahya Salawati (± 1890-1964), yang dikemudian hari menjadi ketua sinode yang pertama. Dia bersama orang lain memainkan peranan penting sebagai penasihat para zendeling. Akan tetapi, para zendeling kemudian menjadi sadar bahwa para pendeta pribumi sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti mereka, dengan akibat struktur hierarki yang berlaku dalam zending boleh jadi diteruskan dalam gereja yang berdiri sendiri kelak. Maka mulai tahun 1930 diadakan pembicaraan dengan maksud mempersiapkan peraturan gereja berpola presbiterial. Prosesnya berkepanjangan, sehingga belum selesai waktu Perang Dunia II meletus. Pada tahun 1926 dua kelompok malah telah memisahkan diri dari jemaat zending, karena tidak lagi menerima perwalian zending itu. Tetapi zaman Jepang yang penuh kesusahan itu (sejumlah pemuka masyarakat Sangir tewas terbunuh oleh Jepang) untuk sementara waktu menghentikan proses peralihan pimpinan; lagi pula pada masa itu para zendeling lagi ditawan oleh Jepang. Namun, pada taun 1974 (tanggal 25 Mei) berdirilah Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud.

Sesudah tahun 1947

Selama tahun-tahun pertama, sebagian besar jemaat-jemaat di kepulauan Talaud tidak masuk menjadi bagian gereja yang baru berdiri sendiri itu. Barulah pada tahun 1955, ketika ketua Sinode yang pertama Y. Salawati, diganti oleh seorang talaud, jemaat-jemaat itu bergabung dengan GMIST. Di masa kemudian, hubungan antara kedua wilayah GMIST itu bukan tidak menimbulkan persoalan. Pun hubungan dengan klasis Indonesia Barat, yang mencakup jemaat-jemaat orang Sangir dalam perantauan di Jawa dan Sumatera, mengalami kesulitan karena jarak yang jauh. Terdapat pula sejumlah besar orang Sangir yang dari dulu sudah menetap di Filipina Selatan. Pada tahun 1943, bakal GMIST sudah merencanakan usaha pekabaran Injil di tengah kelompok tersebut, tetapi pelaksanaannya dicegah oleh campur tangan pihak Jepang. Pada tahun 1965, GMIST meminjamkan seorang pendetanya kepada DGI, yang mengutusnya ke Filipina Selaatan untuk bekerja di situ di bawah naungan Dewan Gereja-Gereja Filipina, bersama beberapa guru Sangir.

Organisasi gereja

Dalam hal organisasi gereja, GMIST dengan susah payah mencari pola yang cocok dengan keadaan di gugusan pulau yang terbentang luas dan yang sebagian besar miskin itu. Pada sidang sinode tahun 1961 diambil keputusan untuk mengupayakan desentralisasi (bnd. § 34). Dibentuklah "jemaat-jemaat otonom", yang diberi wewenang seperti yang sesungguhnya dinikmati oleh klasis-klasis. Akan tetapi, ternyata sistem ini tidak memenuhi harapan, sehingga sinode tahun 1970 menempuh jalan yang justru lain: baik jemaat-jemaat otonom maupun klasis-klasis dihapuskan dan diganti tiga resort besar. Dengan demikian jemaat-jemaat langsung berurusan dengan sinode. Tujuannya a.l. supaya dengan adanya organisasi baru itu keadaan kas sinode membaik (bnd. § 35). Ternyata keadaan tidak menjadi lebih baik, maka pada tahun 1978 klasis-klasis dipulihkan. Dalam pada itu, timbul kesadaran bahwa lebih dulu GMIST perlu memikirkan secara mendalam dasar dan tujuan kehidupannya sebagai gereja. Maka dengan maksud itulah sejak tahun 1983 GMIST mulai meninjau kembali secara sungguh-sungguh tata gereja yangg pada tahun 1947 diwariskan kepadanya oleh zending, dan yang selama itu belum banyak mengalami perubahan. Jumlah anggotaa gereja kini (1997) 220.000 lebih (1972: 183.344), yang merupakan 90% lebih dari seluruh penduduk kepulauan Sangir-Talaud. Gereja-gereja terbesar lainnya di Sangir-Talaud. Gereja-gereja terbesar lainnya di Sangir-Talaud ialah Gereja Katolok Roma dan Pentakosta.

Bolaang Mongondow

Dalam abad ke-18 sudah terdapat ratusan orang Kristen di daerah pesisir Bolaang Mongondow. Tetapi daerah ini pun tidak mendapat perhatian yang cukup dari pihak VOC. Dalam abad ke-19, Islam masuk dan raja pun memeluk agama Islam. Tenaga NZG di Minahasa mengunjungi kelompok-kelompok perantau dari Minahasa yang terdapat di situ. Tetapi ketika NZG hendak mengutus seorang tenaga tetap, pemerintah Belanda melarangnya, dengan alasan tidak bisa menjamin keselamatan utusan itu. Pada tahun 1904 raja Cornelis Manoppo, seorang Islam, yang telah berbuat banyak untuk membangun kehidupan rakyat, meminta zending agar membuka sekolah-sekolah didaerahnya. NZG mengutus beberapa orang, yang a.l. membuka sekolah HIS di Kotamobagu. Di samping memperhatikan pendidikan, zending menekankan pemeliharaan terhadap orang Minahasa dan Sangir yang telah merantau ke daerah itu. Pekerjaan di kalangan orang asli yang beragama Islam tidak dilakukan secara langsung dan intensif. Pun para guru dan penghantar jemaat kebanyakan berasal dari Minahasa. Di antara mereka terdapat guru J. Pandegirot (guru sejak 1906, 1930 ditahbiskan menjadi pendeta pribumi) yang menjadi tokoh pemimpin waktu Perang Dunia. Namun, ada pula sebagian orang asli Bolaang Mongondow yang masuk Kristen. Pada tahun 1970 mereka ini merupakan 20% dari jumlah anggota gereja yang pada waktu itu meliputi 30.000 jiwa lebih (15-20% penduduk). Kini (1997) anggota GMIBM berjumlah 85.000.

Gereja berdiri sendiri

Kemandirian gereja barulah mendapat perhatian pada tahun 1938 dengan kedatangan seorang zendeling dari Sangir, yang secara khusus didatangkan untuk itu (J. Langeveld). Ia mengadakan rapat para penghantar jemaat (permulaan 1939), kemudian kumpulan wakil-wakil jemaat (Desember 1939). Dalam rapat itu ditetapkan organisasi gereja yang bersifat sementara. Peresmian gereja mandiri (secara formal) berlangsung sesudah perang, yaitu pada tahun 1950. Sama seperti gereja-gereja lainnya di wilayah Sulutteng, Gereja Masehi Injili Bolaang Momgondow ini banyak menderita akibat pergolakan PERMESTA.

Gorontalo Buol Toli-toli

Mulai tahun 1889, seorang asisten-residen Belanda menetap di Gorontalo. Oleh karena itu, di sana terdapat sejumlah orang Kristen Indonesia, khususnya orang Minahasa. penduduk asli sebagian besar menganut agama Islam. Pada tahun 1891-1898 seorang tenaga utusan NZG menetap di situ, tetapi tidak ada hasil yang nyata. Namun, Gorontalo termasuk resort pendeta GPI yang bertempat di Manado, dan jumlah orang Kristen bertambah terus karena datangnya perantau dari Minahasa. Pada tahun 1936, GMIM yang baru berdiri sendiri itu (§ 34) menerima Gorontalo bersama Donggala menjadi daerah pekabaran Injil-nya. pada tahun 1965 berdirilah gereja Protestan Indonesia Gorontalo (GPIG), yang anggotanya 14.000 lebih. Dengan cara yang sama berdiri pula Gereja Protestan indonesia Buol Toli-toli (GPIBT) pada tahun 1965, yang anggotanya berjumlah 14.500 lebih (1997).

Gereja Kristen Di MALUKU (± 1800-1864)

Keadaan Umum

Mulai dari tahun-tahun 1790-an sampai sekitar tahun 1820, Ambon dan kepulauan Maluku berada dalam keadaan yang tidak menentu. Dua kali orang-orang Inggeris menggantikan orang-orang Belanda sebagai penguasa (1796-1802, 1810-1817). Mereka meringankan beban yang harus ditanggung penduduk akibat sistim monopoli VOC ( § 10). Ketika orang-orang Belanda kembali (1817), mereka langsung mulai lagi membebankan bermacam-macam kewajiban kepada rakyat, dan hal itu turut menyebabkan pemberontakan yang hebat di Saparua. Tahun-tahun 1820-an merupakan periode yang tenang, tetapi mulai dari 1835 pulau-pulau Maluku Tengah digoncangkan oleh gempa bumi dan wabah. Dalam pada itu kehidupan orang-orang Maluku tetap berjalan menurut corak yang sudah berlaku selama masa VOC. Mereka tidak mengembangkan kegiatan ekonomi sendiri selain untuk memperoleh keperluan hidup yang paling terutama. Pulau-pulau Maluku miskin, dan banyak orang yang merantau menjadi pegawai atau prajurit untuk pemerintah Belanda. Di bidang politis, orang-orang Ambon tetap berada di bawah perwalian orang-orang Belanda. Segala sesuatu diatur dari atas, dan mereka terpaksa menerima saja apa yang diputuskan mengenai mereka.

Tak ada pendeta-pendeta

Gereja di Maluku ikut mengalami pengaruh peristiwa-peristiwa umum. Pada tahun-tahun 1780-an masih terdapat tiga orang pendeta di Ambon. Tetapi akibat runtuhnya VOC, hubungan dengan dunia luar diputuskan. Sejak 1793 sampai 1815 tidak ada lagi seorang pendeta di Ambon kecuali selama beberapa bulan saja; di Saparua seorang pendeta masih bertahan sampai tahun 1801. Di Ternate dan Banda, keadaan tidak banyak berbeda. Barulah pada tahun 1813, pemerintah Inggeris mendatangkan seorang pendeta dari India, yaitu Jabez Carey, anak William Carey yang terkenal itu. Tetapi ia kini adalah seorang Baptis, dan tidaklah bersedia untuk bekerja dalam rangka pekerjaan gerejani sebagaimana terdapat di Maluku.

Arti tiadanya pendeta-pendeta


Terputusnya hubungan dengan dunia luar sama sekali tidak berarti bahwa gereja Kristen di Ambon menjadi punah. Orang-orang Kristen Ambon sekarang juga (bnd § 9) ingin tetap berpegang pada agama Kristen. Sejak dahulu kala, kekristenan di Ambon terutama terpelihara oleh guru-guru, bukan oleh pendeta-pendeta asing. Dan kini guru-guru itu meneruskan kegiatan yang biasa di gereja dan di sekolah. Pendidikkan mereka tidaklah memadai. Namun demikian, di antara mereka terdapat orang-orang yang memimpin jemaat dengan cara yang sama sekali dapat dipertanggungjawabkan. Kita mendengar tentang guru Lokolo di Amahai yang membimbing jemaatnya dengan sangat setia; tentang seorang guru yang khotbahnya dipuji juga oleh utusan Injil yang serba kritis itu; tentang guru kepala Risakotta di Saparua, yang sekolahnya di Tiouw dinilai sebagai suatu sekolah-teladan. Guru-guru seperti ini mengucapkan pula khotbah yang mereka susun sendiri (§ 10), dan menurut pekerjaannya, mereka layak disebut sebagai pendeta. Hanya, mereka tidak ditahbiskan dan mereka tidak boleh melayankan sakramen-sakramen.

Kehidupan gereja tidak banyak berobah

Bahkan boleh dikatakan bahwa orang-orang Kristen di Maluku kebanyakan hampir tidak merasa bahwa telah terjadi perubahan. Orang-orang Kristen di luar kota Ambon sudah biasa dengan pelayanan sakramen-sakramen yang jarang sekali terjadi. Dan mereka bertemu muka dengan seorang pendeta paling banyak satu kali setahun; sering juga kurang dari itu. Jadi, bagi mereka tidak banyak yang berobah dengan perginya pendeta yang terakhir. Sebaliknya kekosongan pendeta itu hanya menandaskan kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan yang sudah ada selama zaman Misi dan gereja Gereformeerd. Selama dua setengah abad, orang-orang Kristen Maluku sudah tidak mendapat tenaga pelayan yang terdidik baik, dan kepada mereka tidak dilayankan sakramen-sakramen secara teratur. Sekarang hubungan dengan dunia luar telah putus, dan gereja sama sekali tidak mempunyai lagi pendeta maupun sakramen. Tetapi dalam keadaan seperti itu gereja di Maluku sudah hidup selama hampir tiga abad.

Orang-orang maluku berpegang pada agama Kristen

Niat orang-orang Ambon hendak berpegang pada agama yang diwariskan kepada mereka menjadi nyata dalam pemberontakan di Saparua (1817), yang dipimpin oleh Thomas Matulessy yang dinamakan pula Pattimura. Pemberontakan ini untuk sebagian besar dicetuskan oleh persoalan-persoalan di bidang agama, yaitu gereja dan sekolah. Pemerintah Belanda mau menghentikan pembayaran gaji para guru dari Kas negara, sehingga mereka untuk seterusnya akan ditanggung oleh negeri-negeri sendiri. Orang-orang Maluku menafsirkan rencana itu sebagai tindakan yang merusak agama Kristen. Orang malah meminta supaya dikirimi pendeta (Belanda) lebih banyak, supaya pemeliharaan rohani terjamin. Salah satu alasan lain yang dikemukakan Pattimura ialah bahwa orang-orang Islam di Maluku konon mau dikristenkan secara paksa. Dan akhirnya orang marah karena salah satu gedung gereja di kota Ambon, yang sudah rongsok, mau dijadikan gudang. Pattimura mendapat dukungan penuh dari pihak para guru, dan mereka yakin bahwa Allah berada dipihak mereka - tentu saja keyakinan seperti ini terdapat pula pada orang-orang Belanda.

Corak kepercayaan orang-orang Maluku

Dari tuntutan-tuntutan yang dikemukakan oleh Pattimura dan oleh guru-guru yang mendukung dia, dapat kita tarik beberapa kesimpulan lain lagi.

Kesatuan kehidupan

a. Orang-orang Kristen Maluku menganggap bahwa hubungan yang erat antara gereja, sekolah dan negara, seperti yang telah berlaku pada zaman VOC, adalah wajar. Gagasan-gagasan baru yang telah timbul di Barat akibat Pencerahan dan Pietisme, yaitu bahwa negara tak berurusan dengan gereja dan bahwa sekolah harus dilepaskan dari pimpinan gereja, adalah sama sekali asing bagi mereka. Di kalangan mereka masih dianut kesatuan kehidupan seperti yang terdapat dalam lingkungan agama suku ( § 1) dan di dunia Barat sebelum abad ke-18 ( § 3,10).

Kesucian = kesaktian

b. Keberatan mereka terhadap penjualan suatu gedung gereja mungkin sekali menandakan bahwa mereka memandang benda-benda keagamaan sebagai benda-benda suci. Dengan kata lain, bahwa bagi mereka "kesucian" mendapat arti "kesaktian", "keramat", sama seperti dalam agama suku (tetapi anggapan ini tersebar luas juga di tengah-tengah kekristenan Barat). Kesan ini diperkuat oleh berita-berita tentang sifat magis yang melekat pada benda-benda yang dipakai dalam ibadah, seperti misalnya cerita mengenai seorang pemuda yang merampas isi peti derma, lalu diserang penyakit yang mengakibatkan mulutnya berbentuk lubang dalam peti derma itu. Kita bisa pula mengingat pemakaian air baptisan dan roti perjamuan sebagai obat atau pupuk.

Tidak misioner

c. Reaksi mereka terhadap desas-desus seakan-akan orang-orang Islam mau dipaksa menjadi Kristen, memperlihatkan kepada kita bahwa mereka memandang agama Kristen itu sebagai milik yang sangat dihargai, tetapi yang tidak usah diteruskan kepada saudara-saudara mereka yang beragama lain. Wajarlah kalau mereka sendiri menganut agama Kristen; wajar juga kalau di negeri-negeri lain orang menganut agama Islam. Dalam hal ini pula kita melihat pengaruh citarasa agama suku, yang tidak bersifat misioner terhadap anggota-anggota lingkungan yang lain.

Pengaruh agama suku secara langsung

Dalam hal-hal yang dicatat tadi itu nampaklah pengaruh agama suku yang tidak langsung, yaitu pengaruh pola berpikir yang terdapat dalam agama suku. Bentuk kepercayaan Kristen ditentukan olehnya. Di samping itu masih terdapat juga pengaruh agama suku yang langsung, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang berasal dari agama suku. Kebanyakan orang-orang Kristen masih menyimpan benda-benda keramat, benda-benda yang berwujud nenek-moyang. Pendeta-pendeta pada zaman VOC telah memberantas unsur-unsur agama suku ini, dan kalau kedapatan, orang menerima hukuman berat, sampai diancam hukuman mati. Anehnya, pendeta-pendeta itu kurang menyadari pengaruh berfikir agama suku yang tidak langsung itu dalam perwujudan agama Kristen seperti yang terdapat di Maluku (atau di Belanda sendiri). Akibatnya, usaha-usaha ini tidak berhasil mencabut kekafiran di tengah jemaat-jemaat Kristen.

Tenaga baru: Jabez Carey (1814 - 1818)

Pemerintah Inggeris tidak senang melihat keadaan tersebut. Mereka meminta tenaga baru dari zending Inggeris di India. Yang diutus ialah Jabez Carey, putera tokoh zending yang terkenal itu, yakni William Carey. Sebagaimana pada zaman VOC para pendeta Belanda membawa-serta bentuk-bentuk dan corak gereja mereka dari tanah-air, begitu pula Carey ini memasukkan ke Ambon keyakinan-keyakinan khas dari gerejanya sendiri, yaitu gereja Baptis. Ia malah disuruh ayahnya meninjau kembali buku-buku sekolah dan kitab katekismus (§ 10), menyerang baptisan anak-anak, dan membentuk "gereja-gereja injili", yang terdiri dari orang yang betul-betul takut akan Allah. Tetapi Carey belum berhasil mewujudkan cita-cita ini, ketika orang-orang Belanda kembali memegang kekuasaan di Maluku (1817), dan mengusir dia (1818).

Tenaga baru: Joseph Kam (1769-1833)

Sebelum pemerintah Belanda sempat mengoper Ambon, seorang pendeta Belanda sudah memulai pelayanan di sana. Joseph Kam berasal dari keluarga Pietis di Belanda. Tetapi ia sekeluarga tetap tinggal anggota-anggota gereja gereformeerd (gereja-rakyat, gereja-negara). Keluarganya mempunyai hubungan yang akrab dengan jemaat Herrnhut ( § 19), dan dengan penuh perhatian membaca berita-berita mengenai usaha pekabaran Injil oleh utusan-utusan Herrnhut. Joseph ingin menjadi seorang pekabar Injil juga, tetapi baru setelah isterinya meninggal, ia dapat melamar ke NZG (lembaga ini tidak mau mengutus orang-orang yang berkeluarga). Selama beberapa tahun ia dididik oleh pendeta-pendeta dari lingkungan Pengurus NZG. Baru di kemudian hari NZG mendirikan sekolah pendidikan calon-calon zendeling. Kam di tahbiskan menjadi pendeta dan pada tahun 1814 ia tiba di Jawa, bersama Bruckner dan seorang teman lain lagi.

Kam "disita" pemerintah


Kam dan kedua temannya bermaksud untuk bekerja di tengah-tengah orang yang bukan-Kristen, lepas dari jemaat-jemaat yang sudah ada. Akan tetapi pemerintah menganggap pemeliharaan atas jemaat-jemaat itu lebih mendesak daripada pekabaran Injil dan ketiga zendeling itu disuruh mengisi lowongan-lowongan dalam gereja-gereja ( § 18). Bruckner ditempatkan di Semarang ( § 24), sedangkan Kam sendiri dikirim ke Ambon. Tetapi sebelum berlayar ke sana, Kam selama setengah tahun melayani jemaat Surabaya. Di situ ia berkenalan dengan beberapa orang yang peka terhadap pemberitaannya, antara lain seorang tukang arloji berkebangsaan Jerman yang namanya Emde (§ 24). Dalam hati mereka Kam tanamkan kesadaran bahwa mereka bertanggung-jawab atas pekabaran Injil di tengah-tengah orang-orang Jawa. Pada tahun 1815 Kam mendarat di Ambon dan mulai bekerja di sana. Umurnya pada saat itu sudah 45 tahun.

Pekerjaan Kam di Maluku (1815 - 1833)

Di Maluku, Kam menemukan situasi yang telah digambarkan di atas. Yang menjadi persoalan ialah, bagaimana menghadapinya. Mungkin kita menduga bahwa Kam akan mengikuti corak Pietisme/Revival dengan mengumpulkan "orang-orang Kristen hidup" dari antara "massa anggota gereja yang mati" dan dengan menggunakan kelompok-kelompok orang-orang saleh itu sebagai pangkalan untuk membaharui gereja. Itulah metode yang telah dianjurkan oleh William Carey. Dan memang Kam segera mulai mengadakan latihan-latihan rohani dan kumpulan-kumpulan doa, di mana orang-orang yang sudah "dibangunkan" berkumpul. Kumpulan-kumpulan itu baginya merupakan suatu alat yang penting dalam membangun kembali gereja di Maluku. Akan tetapi Kam bukanlah seorang Pietis yang fanatik, yang tidak mau tahu tentang gereja-rakyat dan yang meremehkan pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen-sakramen kepada orang banyak. Lain dari pada Carey, ia segera menyingsingkan lengan dan mulai mengejar ketinggalan yang terjadi akibat tidak adanya pendeta selama duapuluh tahun. Dua hari setelah tiba di Ambon ia mulai melayankan Firman; tiga minggu kemudian ia memimpin perayaan perjamuan Kudus. Dan karena di kota Ambon saja terdapat tiga ribu anak yang belum sempat di baptis, ia mulai melayankan baptisan kepada mereka (dengan menetapkan jatah 120 orang per minggu). Dalam pekerjannya ini, Kam menggabungkan cita-cita Pietisme dengan suatu sikap terbuka terhadap kenyataan dan nilai gereja rakyat.

Di luar kota Ambon, wilayah dalam, wilayah luar

Tetapi bukan hanya kota Ambon yang menjadi lapangan kerja Kam. Ia merupakan satu-satunya pendeta di wilayah Maluku, malahan di seluruh Indonesia Timur. Kam lebih dulu mencurahkan perhatiannya kepada wilayah-dalam yakni jemaat-jemaat di pulau Ambon dan pulau-pulau sekitarnya. Pada tahun 1815-1816 ia mengadakan turne ke jemaat-jemaat tersebut dan di mana-mana ia memberitakan Firman, menegakkan disiplin gereja dan di sekolah, ditinjaunya juga. Untuk selanjutnya ia mengunjungi jemaat-jemaat ini - jumlahnya 70 lebih - satu kali setahun. Di samping itu beberapa kali ia mengadakan perjalanan besar ke Ternate - Minahasa - Sangir dan ke pulau-pulau Selatan sampai ke Timor. Di situ keadaan jemaat-jemaat adalah jauh lebih buruk daripada di Ambon dan sekitarnya (bnd § 10, 11). Karena menyadari bahwa ia tidak dapat memberi pemeliharaan yang teratur kepada jemaat-jemaat itu, Kam meminta NZG agar mengirim tenaga-tenaga baru buat menduduki lapangan itu. Delapan di antara utusan-utusan baru itu ditempatkan di pulau-pulau Maluku Selatan, tetapi usaha mereka di sana gagal dan terpaksa dihentikan pada tahun 1841. Tetapi di Minahasa dan di Timor, pekerjaan utusan-utusan NZG mencapai hasil yang lebih besar (§ 21,22).

Arti pekerjaan Kam

Arti pekerjaan Kam dapat dirangkum dalam dua pokok.

    Di tengah kekristenan Ambon yang masih menganut kesatuan kehidupan yang bersifat statis dan yang belum bersikap misioner itu ia menanamkan suatu jenis kekristenan yang baru, yakni kekristenan gaya Pietisme/Revival. Hal ini akan membawa kepada ketegangan-ketegangan. Akan tetapi oleh karenanya berkembang juga kekuatan-kekuatan baru, yang mempersiapkan gereja di Maluku untuk perubahan-perubahan besar yang akan datang pada tahun 1935 dan tahun 1950, yaitu kemerdekaan gereja dan pemutusan hubungannya dengan negara.

    Di kota Ambon dan di jemaat-jemaat Maluku Tengah, Kam mendirikan kembali pelayanan Firman dan sakramen-sakramen serta penggembalaan sampai di tingkat yang lama, yaitu tingkat yang agak rendah. Di daerah-daerah pinggir, dari Minahasa sampai ke Timor, ia hanya mulai menghidupkan kembali jemaat-jemaat, yang di sana adalah bagaikan tanaman yang merana, malahan sudah hampir mati.

Pengganti Kam: Roskott (1835 - 1864)

Sepeninggal Kam, hanya selama satu tahun lagi kota Ambon dilayani oleh seorang pendeta dari kalangan utusan zending. Sesudahnya, pemerintah ( § 18 ) kembali mengirim pendeta-pendeta lulusan Universitas, yang tidak mempunyai hubungan dengan NZG. Pada pendeta-pendeta GPI ini tidak terdapat semangat yang ada pada Kam, lagi pula mereka semua lekas mati atau terpaksa pulang. Di samping mereka, tetap ada beberapa utusan NZG di Maluku. Salah seorang dari kalangan mereka inilah yang menjadi pengganti Kam dalam arti yang sebenarnya, yakni Roskott (di Ambon 1835-1873).

Usaha mendirikan SPG, Hehanusa

Roskott bukanlah pendeta, melainkan seorang guru. Ia diutus NZG dalam rangka rencana untuk membuka suatu sekolah pendidikan guru (SPG). Kam telah menyadari bahwa pendidikan para guru perlu diperbaiki, bahkan merupakan syarat mutlak bagi perbaikan keadaan di gereja dan sekolah. Dan ia telah menerima sejumlah murid di rumahnya. Salah seorang dari murid-murid ini ialah W. Hehanusa (1799-1887) yang kemudian ditempatkan di Minahasa dan di sana ditahbiskan menjadi salah seorang pendeta Indonesia yang pertama (§ 21). Tetapi Kam tidak dapat mencurahkan perhatian secukupnya kepada pendidikan murid-muridnya, sehingga pada umumnya hasil usahanya ini tidaklah memuaskan. Makanya NZG mengirimkan Roskott dengan tugas untuk secara khusus memperhatikan bidang pendidikan.

SPG Roskott Picauly

Roskott membuka SPG-nya di Batumerah (1835). Ia mempunyai rekan sepekerjaan seorang Ambon, yaitu Picauly. Murid-murid hanya terima sesudah melalui penyaringan yang ketat dan mereka harus tunduk kepada disiplin yang sangat ketat - tetapi serentak mereka sendiri diberi suara yang besar dalam pelaksanaan disiplin itu, dan malahan dalam penyaringan murid-murid baru. Jelaslah bahwa guru-guru yang telah dididik dengan sistem ini tidak akan menjadi orang-orang yang senang kalau semata-mata merupakan alat pendeta dan yang hanya ingin mempertahankan keadaan yang sudah berlaku (bnd § 27). Pendidikan mereka meliputi mata pelajaran yang berguna bagi sekolah maupun gereja, antara lain latihan khotbah dan tentu saja musik. SPG Batumerah menghasilkan seratus guru lebih. Mereka lama-lama menggantikan angkatan guru yang lama, dan banyak juga yang dikirim ke daerah-daerah di luar Ambon, sampai ke Menado dan Timor.

Ketegangan "gereja-negara"

Pemerintah Belanda senang sekali melihat mutu guru-guru tamatan Batumerah. Akan tetapi sesudah beberapa waktu, mulailah nampak hasil-hasil sistem pendidikan Roskott yang tidak begitu menyenangkan bagi pemerintah. Guru-guru muda didikan Roskott tidak selalu puas dengan keadaan yang mereka dapati dinegeri-negeri tempat mereka bekerja. Mereka mulai menggugat tata-cara, "adat Kristen", yang mudah terbentuk sejak dua abad lebih. Para raja sebagai pelindung adat tidak menerima baik perobahan-perobahan yang diusahakan oleh para guru, dan terjadilah bentrokan-bentrokan. Secara kecil-kecilan terulang di sini pertikaian antara gereja dan negara yang telah terjadi di Eropa dalam Abad Pertengahan, yaitu konflik antara suatu negara yang ingin memelihara kesatuan kehidupan yang statis, dan suatu gereja yang telah dibangkitkan oleh Injil dan yang mau mendobrak kesatuan itu.

Tindakan-tindakan pemerintah, dan reaksi NZG

Roskott mau memecahkan konflik ini dengan meletakkan seluruh kekuasaan sipil di tangan para utusan Injil (bnd cita-cita paus Innocentius!). Tetapi pemerintah Belanda tidak menerima usul ini dan mengambil tindakan tegas untuk membendung pengaruh sending yang membahayakan "keamanan dan ketertiban" itu (bnd § 17). Daerah Ambon dan sekitarnya ditutup untuk pekabaran Injil (1842). Para zendeling boleh tetap tinggal, tetapi sebagai pekerja GPI. Di dalam rangka GPI mereka lebih mudah dapat diawasi. Dan memang oleh Pengurus GPI mereka dilarang mencampuri urusan-urusan pemerintahan negeri (desa) (1850). Para zendeling dilarang pula mencampuri urusan-urusan sekolah. Bagi pemerintah Belanda, dalam abad ke-19, sekolah bukan lagi persemaian gereja (§ 10), melainkan lembaga untuk mendidik warganegara-warganegara yang baik. Dalam keadaan itu, NZG tidak mau lagi membiayai SPG. Pada tahun 1864 lembaga itu ditutup. (Keputusan ini dipercepat oleh pertikaian antara Pengurus NZG dengan Roskott). NZG tidak mau lagi bekerja sama dengan pemerintah pula. Akibatnya, para zendeling yang bersedia beralih ke GPI diberi status resmi dalam gereja itu, dengan pangkat pendeta-pembantu (1867). Seluruh Maluku menjadi daerah GPI.

Penyediaan buku-buku, Kam, Roskott

Kam dan Roskott ingin meningkatkan mutu hidup gerejani di Maluku dengan cara lain lagi, yakni dengan buku-buku. Ketika Kam datang, hampir tidak tersedia bacaan Kristen dalam bahasa Melayu. Alkitab pun (terjemahan Leijdecker, § 15) sudah menjadi begitu langka, sehingga ditawarkan dengan harga puluhan ribu rupiah. Kitab Mazmur, buku katekisasi (§ 10, 15), semuanya habis. Kam segera mengimpor bahan-bahan yang paling perlu, ribuan buah Alkitab dan duapuluh ribu kitab Mazmur. Tetapi ia berpikir lebih jauh dan mendirikan suatu percetakan sendiri. Di situ ia antara lain mencetak kitab katekisasi besar yang lama ("Tiksar", § 10), sebuah kitab katekisasi sederhana yang baru, dan suatu kumpulan khotbah-khotbah yang diterjemahkannya sendiri dari bahasa Inggeris. Khotbah-khotbah ini menggantikan kumpulan Caron (§ 10), yang sudah dipakai selama 130 tahun yang bahasanya sudah lama tidak dipahami lagi. Roskott di kemudian hari mempersiapkan suatu terjemahan PB ke dalam bahasa Melayu yang lebih sederhana daripada yang dipakai dalam Alkitab-Leijdecker. Dengan kegiatan ini juga, kedua tokoh tersebut meletakkan dasar bagi suatu kehidupan gerejani yang lebih mantap.

Unsur baru bekerja terus

Namun demikian, kehidupan baru dalam gereja di Maluku tidak berhasil dimatikan. Kegiatan utusan-utusan NZG telah memasukkan suatu unsur baru ke dalam lingkungan jemaat-jemaat di Maluku. Unsur baru itu untuk sementara waktu tidak diberi kesempatan menciptakan pembaharuan di dalam, karena dikekang oleh pemerintah. Tetapi semangat baru itu diarahkan ke luar. Di banyak jemaat didirikan kelompok-kelompok yang menunjang pekerjaan yang oleh guru-guru Ambon dilakukan di daerah-daerah di pinggiran Maluku atau di luarnya, sampai di Timor dan Irian. Melalui usaha-usaha ini, orang-orang Kristen di Maluku Tengah belajar melihat gereja sebagai urusan mereka sendiri yang harus mereka tanggung sendiri.

Ringkasan

Sekitar tahun 1800, hubungan gereja di Maluku dengan dunia luar terputus untuk sementara waktu. Di Maluku Tengah, kehidupan gerejani berlangsung terus di bawah pimpinan para guru, menurut corak yang berlaku sejak abad ke-17. Di wilayah-wilayah luar, jemaat-jemaat semakin lemah atau malah menghilang. Mulai tahun 1813, tenaga-tenaga baru membawa kekristenan gaya baru ke Maluku. Unsur baru ini lama-lama mulai mengerjakan pembaharuan dalam jemaat-jemaat. Pemerintah berusaha mengekangnya, tetapi pembaharuan itu berjalan terus.

Penyebaran Injil

Penyebaran Injil Awal di Tanah Batak

Beberapa sumber mencatat bahwa pengabaran Injil di tanah Batak dimulai semenjak Pendeta Ward dan Pendeta Barton dari Gereja Baptis Inggris meyebarkan injil. Usaha pengabaran Injil di tanah Batak dimulai kembali pada tahun 1834 dengan diutusnya Pdt Samuel Munson dan Pdt Henry Lyman dari badan Zending di Boston. Usaha ini mengalami kegagalan di saat kedua missionaris tersebut mati martir di Lobu Pining (Tapanuli Utara). Usaha menginjili tanah Batak sempat terhenti sampai berita mengenai tanah Batak terdengar lagi di Eropa dari hasil ekspedisi seorang Ilmuwan yang bernama Junghun pada tahun 1840. Akibatnya pada tahun 1849 Lembaga Alkitab Belanda mengirim Van der Tuuk untuk mempelajari Bahasa Batak dan hasilnya adalah diterjemahkannya sebagian Alkitab ke dalam bahasa Batak menggunakanaksara Batak. Setelah melihat hasil karya Van der Tuuk, Badan Zending Rheinshe (RMG) mengalihkan konsentrasinya dalam menyebarkan Injil ke daerah Batak degan mengutus Pendeta D.R. Fabri ke sana, sebagian sumber menyebutkan bahwa hal ini disebabkan terhalangnya usaha RMG di Kalimantan.

Kelahiran HKBP

Kelahiran HKBP

Penetapan hari jadi HKBP tanggal 7 Oktober 1861 memiliki makna sejarah dan teologis yang mendalam. Tanggal 7 Oktober 1861 menjadi titik balik sejarah penginjilan dan sejarah Gereja HKBP. Sejarah penginjilan dan sejarah gereja adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang logam yang sama. Gereja tanpa penginjilan bukanlah Gereja.itulah sebabnya peristiwa 7 oktober 1861 diartikan dan dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja. hasilpenginjilan ditanah batak adalah agama kristenatau kekristenan yang didalamnya terdapat sejumlah jemaat atau pargodungan [ setasi sending dan sekaligus huria/jemaat]. jemaat-jemaat tersebu sejak awal sudah diarahkan akan membentuk sebuah gereja-sending yang kelak menjadi sebuah gereja yang mandiri dari lembaga sending barat [ RMG ].

Pada awalnya tanggal 7 oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari lembaga sending Rhein di dunia ini.karena jauh sebelum tahun 1861 sending Rhein telah membuka daerah penginjilannya di Namibia-Afrika selatan, China, Kalimantan dan di Amerika utara. tetapi sejak 7 oktober 1861 dibuka pula satu daerah penginjilan baru di Sumatera, di Bataklanden atau tanah Batak. Daerah penginjilan baru ini diberinama Battamission yang dikemudian hari disebut Batakmission atau Mission -Batak.

tanggal lair Batakmission ditentukan pada 7 Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para penginjil utusan RMG du tanah Batak. hari lahir Batakmission tersebut disambut pengurus sending Rhein RMG di Jerman dengan rasa sukacita. mereka memberitahukan kabar gembira ini kepada jemaat-jemaat pendukung sending RMG di jerman pada awal 1862 sebagai berikut :

" die ersten Briefe unserer Brueder aus dem Battalande sind uns gekommen,und wir koenen heute der Heimathgemeinde den Beginn der Battamission melden. Den 7 oktober 1861 werden wir als den Geburtstag diesses gliedes in dem umkreis unserer arbeit bezeichnen duerfen. An diesem tage traten die dortigen brueder zur ersten Conferenz in Sipirok zusammen "

inilah pemaknaan yang pertama akan arti dari tanggal 7 Oktober 1861, suatu pemaknaan dari kacamata lembaga pengutus RMG di jerman, Eropa.

Batakmission dalam hal ini berarti himpunan dari seluruh para utusan RMG di tanah batak beserta assetnya mencakup seluruh pargodungan dan jemaat serta pelayan pribumi. lembaga sending dan lembaga kegerejaan terpadu dalam suatu lembaga yang bernama Batakmission ( bahasa jerman ) atau Mission- Batak ( Bahasa batak ).Lembaga Mission -Batak ini sejak 1881 dipimpin oleh seorang pemimpin dengan jabatan Ephorus yang dilayankan oleh penginjil Ingwer Ludwig Nommensen ( 1881-1918)

Garis Waktu Sejarah HKBP

Tahun 1824
Pekabar injil datang ke tanak Batak untuk yang pertama kali dari Gereja Baptis Inggris yaitu: Pdt. Burton dan Pdt. Ward.

Tahun 1825–1829
 Perang Tuanku Rao (Perang Bonjol) yang melibatkan bangsa Batak

Tahun1834
Pdt. Samuel Munson dan Pdt. Hendy Lyman datang ke tanah Batak disuruh oleh Persekutuan Zending Boston, akan tetapi mereka dibunuh di desa Lobu Pinang.

Tahun 1840
Franz Wilhelm Junghuhn mempelajari Bahasa Batak dan Adat Batak, memberitahukan bangsa Eropa mengenai bangsa Batak.

Tahun 1849
Herman Neubronner van der Tuuk dari Amsterdam disuruh Persekutuan Bibel Netherland meneliti Bahasa Batak. Dia sempat menuliskan isi Alkitab berbahasakan Bahasa Batak, menulis tata Bahasa Batak dan membuat kamus Bahasa Batak – Belanda beserta cerita-cerita rakyat..
 

Huria Kristen Batak Protestan

Huria Kristen Batak Protestan (disingkat HKBP) adalah gereja Protestan terbesar di kalangan masyarakat Batak, bahkan juga di antara Gereja-gereja Protestan yang ada di Indonesia, dan menjadikannya pula organisasi keagamaan terbesar ketiga setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah . Gereja ini tumbuh dari misi RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) dari Jerman dan resmi berdiri pada 7 Oktober 1861.

Saat ini, HKBP memiliki jemaat sekitar 4.5 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur, Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. Meski memakai nama Batak, HKBP juga terbuka bagi suku bangsa lainnya.

Sejak pertama kali berdiri, HKBP berkantor pusat di Pearaja (Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara) yang berjarak sekitar 1 km dari pusat kota Tarutung, ibu kota kabupaten tersebut. Pearaja merupakan sebuah desa yang terletak di sepanjang jalan menuju kota Sibolga (ibu kota Kabupaten Tapanuli Tengah). Kompleks perkantoran HKBP, pusat administrasi organisasi HKBP, berada dalam area lebih kurang 20 hektar. Di kompleks ini juga Ephorus (=uskup) sebagai pimpinan tertinggi HKBP berkantor.

HKBP adalah anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), anggota Dewan Gereja-gereja Asia (CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.